Kamis, Oktober 29, 2009

Mengorok Berpotensi Kematian


Penelitian yang diketuai oleh Dr.Naresh Punjabi, dari John Hopkins University School of Medicine, Baltimore, AS., menunjukkan sleep apnea meningkatkan risiko kematian dini pada orang dewasa dan orang tua. Hal ini terjadi karena penderita sleep apnea mengalami gangguan sumbatan pernapasan saat tidur hingga bisa terjadi henti napas. Tanda sleep apnea yang paling mudah dikenali adalah tidur mendengkur.

Gangguan "henti napas saat tidur" atau sleep apnea terjadi karena fluktuasi atau irama yang tidak teratur dari denyut dan tekanan darah. Ketika serangan datang tersebut, penderita apnea mengalami kesulitan bernapas bahkan berhenti bernapas saat tidur. Kematian seketika dapat terjadi ketika fluktuasi denyut jantung dan tekanan darah yang tinggi.


Sayangnya orang-orang yang menderita masalah ini biasanya tidak menyadarinya. Kebanyakan pasien tidak mengingat bagaimana "perjuangan" mereka untuk bernapas setiap malam. Gejala-gejala yang dirasakan saat bangun berhubungan pada masalah tidur.

Hal tersebut disebabkan karena adanya hambatan / sumbatan aliran udara pada saat kita bernafas. Banyak faktor yang menyebabkannya, mulai dari daerah rongga hidung, rongga tenggorokkan, rongga mulut dan rongga kerongkongan / pernafasan.

GANGGUAN NAPAS SAAT TIDUR
Gangguan napas saat tidur memiliki gambaran karakteristik yang bervariasi, mulai dari snoring/ mendengkur yang paling ringan hingga obstructive sleep apnea (OSA) yang mengancam jiwa. Pemahaman tentang obstruksi jalan napas atas telah mengalami perkembangan yang pesat dalam tiga dekade terakhir. Terdapat tiga sindrom yang berhubungan dengan obstruksi jalan napas atas, yaitu :

1. Sindrom resisten saluran napas atas (Upper Airway Resistance Syndrome=UARS),
2. Obstructive Sleep Hypopnea Syndrome (OSHS),
3. Obstructive Sleep Apnea Syndrome (OSAS).

Ketiga sindrom tersebut memiliki persamaan gejala, yaitu rasa kantuk berlebihan di siang hari akibat obstruksi jalan napas atas yang berulang dan merupakan suatu kelanjutan dari proses penyakit yang didasarkan atas derajat obstruksi jalan napas. Obstruksi jalan napas parsial awalnya digambarkan dengan mendengkur, yang kemudian menjadi UARS, menjadi OSHS, dan akhirnya OSAS. Dua keadaan terakhir ini digabungkan menjadi obstructive sleep apnea hypopnea syndrome (OSA/HS).

Apnea adalah berhentinya ventilasi selama 10 detik atau lebih, hingga menyebabkan kondisi terjaga. Sedangkan hipopnea adalah berkurangnya aliran napas yang berhubungan dengan desaturasi oksihemoglobin, yang dapat menyebabkan terjaga dari tidur.

OBSTRUCTIVE SLEEP APNEA SYNDROME
Obstructive Sleep Apnea Syndrome (OSAS) adalah gangguan tidur yang ditandai dengan adanya episode berulang sumbatan aliran napas atau berkurangnya aliran napas yang disertai beberapa gejala klinis termasuk rasa lelah yang berlebihan di siang hari.

Tingkat dan Lokasi obstruksi yang memungkinkan pada pasien dengan gangguan tidur. Data dari the Wisconsin Cohort Study mengindikasikan prevalensi OSA pada populasi di Amerika Serikat dengan usia 30-60 tahun adalah 9-24% untuk laki-laki dan 4-9% untuk perempuan. Prevalensi OSA diperkirakan mencapai 2% untuk perempuan dan 4% untuk laki-laki.
Sedangkan prevalensi OSAS pada populasi non Amerika baru dipelajari pada laki-laki dan telah ditemukan sebanyak 0,3% di Inggris dan 20-25% di Israel dan Australia.

Pencegahan
Penatalaksanaan OSA terdiri dari tiga kategori, yaitu modikasi perilaku, menggunakan alat bantu dan pembedahan. Modifikasi perilaku termasuk pengaturan posisi tidur, penurunan berat badan, pencegahan obat sedasi, alkohol atau makanan porsi besar tepat sebelum waktu tidur.

Cara-cara pencegahan sleep apnea sama dengan pencegahan mengorok. Pilihlah cara yang nyaman, diantaranya:
* Latihan olahraga untuk memperkuat otot-otot dan mengurangi berat badan
* Jangan minum alkohol sebelum tidur
* Jangan minum obat penenang, obat tidur maupun anti histamin sebelum tidur
* Tidur miring
* Meninggikan bagian kepala dari tempat tidur sekitar 10 cm
* Menggunakan berbagai alat bantu yang ada. Dua alat bantu yang dapat digunakan untuk mempertahankan potensi jalan napas dan mengurangi insiden gangguan napas saat tidur adalah positive airway pressure (PAP) dan alat bantu oral.
* Tindakan operasi adalah pilihan terakhir yang dapat dilakukan untuk mengurangi penderita mengorok dan henti napas saat tidur.

Disamping itu, jika gangguan yang ada terpicu oleh latar belakangan keunikan anatomi, solusi yang ada yakni melangsungkan proses pembedahan. Tindakan pembedahan yang dapat dilakukan untuk memperluas jalan napas atas pada pasien dengan OSAS terdiri dari :

1). Operasi hidung,
2). Operasi palatum, dengan atau tanpa tonsilektomi,
3). Operasi reduksi pangkal lidah,
4). Operasi maksilomandibular,
5). Trakheotomi.

Kelima prosedur ini dipilih berdasarkan kelainan anatomi yang ditemukan, dengan tujuan untuk menghilangkan obstruksi parsial atau total aliran napas.

Oleh : dr. Puteri Iskandar



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar