Senin, Mei 04, 2009

Kanker Leher Rahim (Kanker Serviks)


Tahun tahun terakhir ini kanker leher rahim menduduki peringkat pertama kanker pada wanita sekitar 18,5%. Penderita kanker leher rahim di Indonesia sekitar 33% dari seluruh penderita kanker. Setiap tahunnya di seluruh dunia lebih dari 500 ribu kasus baru kanker leher rahim diketahui, 80% terjadi di negara berkembang. Angka kejadian kanker leher rahim di Indonesia sekitar 100 kasus per 100.000 penduduk.
Pemeriksaan pap smear adalah alat deteksi dini kanker leher rahim. Di beberapa maju pap smear mampu menekan laju angka kesakitan dan kematian karena kanker leher rahim. Namun di negara negara berkembang termasuk Indonesia hal tersebut belum dapat terwujud karena beberapa kendala. Selain itu kesadaran wanita Indonesia untuk mencegah dan mendeteksi dini masih sangat rendah. Saat ini telah tersedia pencegahan berupa imunisasi HPV (Human Papiloma Virus) karena dari penelitian diketahui penyebab terbanyak kanker leher rahim.


Penyebab Kanker Leher Rahim
Sekitar 90-99% penyebab kanker leher rahim adalah Human Papilloma virus (HPV). Penularan virus ini terkait erat dengan hubungan seksual yang tidak sehat. Ada beberapa infeksi virus HPV yang reda dengan sendirinya dan sebagian berkembang menjadi kanker leher rahim, sehingga dapat mengancam kesehatan anatomi wanita ini. Salah satu masalah yang timbul akibat infeksi HPV adalah sering kali tidak muncul gejala atau tanda yang tampak oleh mata. Hampir separuh wanita yang terinfeksi HPV tidak memperlihatkan gejala yang jelas dan wanita yang terinfeksi HPV tersebut tidak menyadari bahwa dirinya dapat menularkan virus ke orang sehat lainnya. Ada tiga golongan tipe HPV sebagai penyebab kanker leher rahim, yaitu : HPV resiko rendah (tipe 6 dan 11), HPV resiko sedang (tipe 33, 35, 40, 43, 51, 56 dan 58),dan HPV resiko tinggi(tipe 16, 18, dan 31).

Gejala Kanker Leher Rahim
Pada stadium awal kanker leher rahim tidak memperlihatkan gejala sehingga sulit untuk diketahui. Apabila kanker leher rahim sudah dalam stadium lanjut dapat memperlihatkan gejala gejala sebagai berikut :
1. Keputihan yang tidak sembuh sembuh, yang makin lama akan berbau busuk oleh karena infeksi dan pembusukan jaringan.
2. Perdarahan yang terjadi saat senggama (post coital bleeding), perdarahan yang dialami makin lama makin sering bahkan juga di luar senggama.
3. Rasa nyeri selama bersenggama.
4. Nyeri di sekitar daerah panggul akibat penyebaran sel sel kanker ke serabut saraf.
5. Kesulitan atau nyeri pada saat berkemih.
6. Pada stadium terminal akan timbul gejala akibat penyebaran sel kanker ke organ dalam, misal menyebar ke ginjal akan muncul gejala gejala sakit ginjal begitu juga kalau sudah menyebar ke paru paru akan menyebabkan gejala gejala sakit paru paru.

Faktor Resiko
Ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan resiko terjadinya kanker leher rahim, yaitu :

1. Hubungan seksual atau pernikahan di usia dini
Ini merupakan resiko utama semakin muda seseorang melakukan hubungan seksual semakin tinggi resiko terkena kanker leher rahim. Menurut penelitian wanita yang melakukan hubungan seksual di usia 17 tahun mempunyai resiko 3 kali terkena kanker leher rahim bila dibandingkan dengan wanita yang melakukan hubungan sekual pada usia 20 tahun.

2. Bergonti ganti pasangan seksual
Perilaku seksual dengan gonti ganti pasangan akan meningkatkan kemungkinan penularan HPV. Resiko terkena kanker leher rahim menjadi 10 kali pada wanita dengan pasangan seksual 6 atau lebih.

3. Merokok
Wanita perokok mempunyai resiko terkena kanker leher rahim 2 kali lipat dibandingkan dengan wanita bukan perokok. Penelitian menunjukan lendir leher rahim pada wanita perokok mengandung nikotin dan zat zat lain yang terkandung dalam rokok. Zat zat tersebut akan menurunkan daya tahan leher rahim disamping merupakan ko-karsinogenik infeksi virus.

4. Defisiensi Zat Gizi
Ada beberapa penelitian yang menyatakan bahwa defisiensi asam folat dapat meningkatkan resiko terjadinya displasia ringan dan sedang. Pada wanita dengan konsumsi rendah beta karoten dan retinol (vitamkin A) juga dapat meningkatkan resiko terjadinya kanker leher rahim.

5. Trauma Kronis Pada Leher Rahim
Trauma kronis pada leher rahim dspat disebabkan persalinan, infeksi, dan iritasi menahun.

Deteksi Dini Kanker Leher Rahim
Adalah tindakan untuk menemukan sel sel kanker sedini mungkin. Dengan deteksi dini maka harapan hidup pada wanita yang menderita kanker leher rahim akan meningkat dan resiko kematian dapat dihindari. Ada beberapa metode deteksi dini kanker leher rahim yaitu dengan cara Pap Smear dan Inspeksi Visual dengan Asam asetat (IVA).
Pap smear adalah pemeriksaan sitologi dengan sensitivitas yang cukup baik dan murah. Dengan pap smear perubahan pada sel sel leher rahim yang mengarah pada keganasan dapat terdeteksi. Sudah 50 tahun metode deteksi dini dengan papsmear sudah digunakan sebagai sarana untuk diagnostik kanker leher rahim. Teknik pap smear dilakukan dengan cara pengaambilan selaput lendir epitel leher rahim dengan spatula atau sikat halus. Kemudian lendir epitel leher rahim dioleskan pada kaca benda, kemudian dilihat dengan mikroskop apakah terdapat sel sel yang ganas atau tidak. Pap smear dilakukan setiap tahun sekali, apabila hasil tes 2-3 kali pemeriksaan negatif maka pap smear dilakukan dengan interval 3-5 tahun.
Pada daerah dengan fasilitas pemeriksaan sitologi tidak ada dapat dilakukan deteksi dini dengan metode Inspeksi Visual Asam asetat (IVA). IVA adalah salah satu tes untuk mengidentifikasi lesi pre-kanker. Caranya adalah dengan mengusapkan pada leher rahim asam asetat 3-5% dengan aplikator kapas lesi pre-kanker, lalu hasilnya diamati dengan mata telanjang selama 20-30 detik. Lesi pre-kanker positif apabila terlihat secara temporer berwarna lebih putih dari sekitarnya.

Pencegahan
Pencegahan selalu lebih baik dari pada mengobati, tindakan pencegahan kanker leher rahim dilakukan dengan cara imunisasi menggunakan vaksin HPV. Pasien wanita yang mendapat vaksinasi HPV tidak saja mendapat manfaat dari proteksi terhadap kanker leher rahim namun mereka juga mendapat manfaat dengan penurunan jumlah tes Papaniculou abnormal. Perlu diingat wanita yang mendapatkan vaksin HPV tetap harus menjalankan test Papaniculou karena vaksin tidak melindungi pencegahan komplit terhadap kanker leher rahim. Badan regulasi Australia, TGA (Therapeutic Goods Administration) telah merekomendasikan Cervarix yang dapat diberikan pada wanita berusia 10-45 tahun, sehingga merupakan vaksin pertama untuk pencegahan kanker leher rahim. Sementara di Indonesia saat ini masih dalam tahap penelitian untuk mengetahui jenis virus HPV dan profil daya tahan wanita indonesia. Setelah diketahui jenis virus HPV yang cocok barulah pembutan massal vaksin dilaksanakan. Bahan dasar pembuatan vaksin bukan virus HPV utuh namun bagian selubung (Capsid) virus HPV yang digunakan. Vaksin cukup dengan bagian selubungnya yang bisa memancing tubuh membentuk sistem kekebalan terhadap virus HPV.
Imunisasi HPV akan diberikan pada wanita usia 12-14 tahun melalui suntikan selama tiga kali berturut turut tiap dua bulan sekali dan dilakukan pengulangan sekali setelah sepuluh tahun kemudian. Kemudahan dalam pemberian vaksin dan tingginya angka keberhasilan menjadi keunggulan pencegahan dengan imunisasi.

Sumber : Jurnal Kedokteran Indonesia "Medika"

2 komentar: